PERENCANAAN PAJAK MELALUI PENYUSUTAN

LATAR BELAKANG PENYUSUTAN

Pada umumnya, perusahaan dalam kegiatan usahanya melakukan pemotongan pajak yang disebabkan karena adanya pengeluaran kas. Salah satunya adalah jasa yang digunakan dalam kegiatan operasional yang harus dibeli terlebih dahulu seperti gedung, mesin dan tanah. Pengeluaran kas untuk pengeluaran tersebut memberikan manfaat lebih dari satu periode. Untuk kepentingan pajak, perlakuan terhdap pengeluaran semacam ini dapat menimbulkan masalah dalam penentuan pajak penghasilan.

 PENGERTIAN PENYUSUTAN

Penyusutan adalah alokasi jumlah suatu aset yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaat yang diestimasi. Penyusutan perlu dilakukan karena manfaat yang diberikan dari aset tersebut semakin berkurang. Pengurangan nilai aset dibebankan secara bertahap. Kebijakan pajak untuk penyusutan harus mempertimbangkan tiga hal yaitu keadilan pajak, kebijakan ekonomi dan administrasi.

 KARAKTERISTIK DARI ASET YANG DAPAT DISUSUTKAN

  1. Digunakan dalam kegiatan usaha.
  2. Nilainya menurun secara bertahap.
  3. Aset berwujud dan tidak berwujud yang mempunyai manfaat lebih dari satu periode.
  4. Pihak yang berhak melakukan penyusutan adalah pihak yang menggunakan aset tersebut dan pemilik.
  5. Saat dilakukan penyusutan adalah saat digunakan.
  6. Dasar melakukan penyusutan adalah harga perolehan, harga penggantian dan revaluasi.

 PENYUSUTAN BERDASARKAN PERATURAN PERPAJAKAN

Saat Mulainya Penyusutan Fiskal

Undang-undang pajak penghasilan secara khusus dan eksplisit menetapkan saat dimulainya penyusutan fiskal adalah pada bulan perolehan.

Harta/Aset dalam Pengerjaan

Untuk harta/aset tetap dalam proses pengerjaan, penyusutannya dimulai pada tahun selesainya pekerjaan tersebut.

Harta/Aset dalam Usaha Sewa Guna Usaha

Penyusutan terhadap harta dalam usaha sewa guna usaha khususnya sewa guna usaha tanpa hak opsi dimulai pada bulan harta tersebut disewagunausahakan.

Persetujuan Dirjen Pajak

Wajib pajak dapat mengajukan permohonan kepada Dirjen Pajak, apabila tidak mengikuti prinsip umum penyusutan. Misalnya penyusutan baru dilakukan pada tahun harta/aset tersebut menghasilkan.

Pengelompokan Harta Berwujud

Dua pengelompokan harta berwujud :

  1. Harta berwujud kelompok bukan bangunan

Kelompok Bukan Bangunan

Masa Manfaat

Kelompok 1

4 tahun

Kelompok 2

8 tahun

Kelompok 3

16 tahun

Kelompok 4

20 tahun

  1. Harta berwujud kelompok berupa bangunan

Kelompok Bangunan

Masa Manfaat

Bangunan permanen

20 tahun

Bangunan tidak permanen

10 tahun

Metode dan Tarif Penyusutan Fiskal

Mulai tahun 1995, wajib pajak diperkenankan untuk memilih metode penyusutan fiskal untuk aset tetap berwujud bukan bangunan, yaitu metode saldo menurun ganda atau metode garis lurus.

 Tarif Penyusutan untuk Aset Tetap Bukan Bangunan

Kelompok Bukan Bangunan

Tarif Penyusutan

Metode Garis Lurus

Metode Saldo Menurun

Kelompok 1

25,00%

50,00%

Kelompok 2

12,50%

25,00%

Kelompok 3

6,25%

12,50%

Kelompok 4

5,00%

10,00%

Tarif Penyusutan untuk Aset Tetap Berupa Bangunan

Kelompok Bangunan

Tarif Penyusutan (Metode Garis Lurus)

Bangunan permanen

5%

Bangunan tidak permanen

10%

PENYUSUTAN BERDASARKAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN

Penyusutan adalah alokasi jumlah suatu aset yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaat yang diestimasi. Jumlah yang dapat disusutkan adalah jumlah perolehan suatu aset atau jumlah lain yang disubtitusikan untuk biaya perolehan dalam laporan keuangan dikurangi nilai sisanya. Nilai sisa atau nilai residu adalah jumlah neto yang diharapkan dapat diperoleh pada akhir masa manfaat suatu aset setelah dikurangu taksiran biaya pelepasan. Jumlah tercatat adalah nilai buku, yaitu biaya perolehan suatu aset setelah dikurangi dengan akumulasi penyusutan.

Biaya Perolehan

Biaya perolehan adalah jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan atau nilai wajar imbalan lain yang diberikan untuk memperoleh suatu aset pada saat perolehan atau konstruksi sampai dengan aset tersebut dalam kondisi dan tempat yang siap untuk digunakan. Biaya perolehan aset tetap terdiri atas harga beli termasuk biaya impor dan PPN masukan tidak boleh direstitusikan dan biaya yang dapat diatribusikan secara langsung dalam aset tersebut. Misalnya :

  1. Biaya persiapan tenpat
  2. Biaya pengiriman awal, biaya simpan dan biaya bongkar muat
  3. Biaya pemasangan
  4. Biaya professional seperti arsitek dan insinyur

 Kriteria Aset yang Dapat Disusutkan

  1. Diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode akuntansi.
  2. Memiliki suatu masa manfaat yang terbatas.
  3. Ditahan oleh suatu perusahaan untuk digunakan dalam produksi atau memasok barang dan jasa, untuk disewakan, atau untuk tujuan administrasi.

Masa Manfaat

Masa manfaat adalah :

  1. Periode suatu aset diharapkan digunakan oleh perusahaan.
  2. Jumlah produksi atau unit serupa yang diharapkan diperoleh dari aset oleh perusahaan.

Metode Penyusutan

  1. Berdasarkan Waktu
  1. Metode garis lurus
  2. Metode pembebanan yang menurun

1)      Metode jumlah angka tahun

2)      Metode saldo menurun/saldo menurun ganda

  1. Berdasarkan Penggunaan
  1. Metode jam jasa
  2. Metode jumlah unit produksi
  3. Metode berdasarkan jenis dan kelompok
  4. Metode anuitas
  5. Sistem persediaan
  1. Berdasarkan Kriteria Lainnya

PERENCANAAN PAJAK UNTUK PENYUSUTAN

Contoh Soal Perencanaan Pajak Atas Penyusutan

PT. Abadi membeli aset tetap berupa mesin, dengan harga perolehan Rp 1.000.000.000,00. Mesin tersebut dalam aset tetap kelompok 1. Besarnya beban penyusutan dapat dilihat pada tabel berikut :

Tahun

 Metode Penyusutan

 Garis Lurus

 Saldo Menurun

1

        250.000.000

        500.000.000

2

        250.000.000

        250.000.000

3

        250.000.000

        125.000.000

4

        250.000.000

        125.000.000

Akum. Penyusutan

     1.000.000.000

     1.000.000.000

Dari tabel 1 dapat dilihat bahwa besarnya beban penyusutan per tahun berbeda-beda tetapi pada akhir masa manfaat (tahun ke-4) jumlah akumulasi penyusutan adalah sama. Sehingga dalam perpajakan perbedaan besarnya beban penyusutan ini dikenal dengan istilah beda waktu/beda sementara (timing difference/temporary difference). Walaupun berdasarkan nilai nominal pada akhir masa manfaat besarnya akumulasi beban penyusutan sama, namun jika ditinjau dari nilai tunai (present value) jumlahnya akan menjadi berbeda.

Dalam contoh ini, untuk mengetahui nilai tunai (present value) tingkat diskon yang digunakan adalah 20%. (Lihat tabel).

Tahun

 Metode Penyusutan

 Garis Lurus

 Saldo Menurun

Tingkat Diskon (20%)

 Nominal PV

 PV

 Nominal PV

 PV

1

           250.000.000

     208.333.333,30

     500.000.000,00

     416.666.667

        0,833333

2

           250.000.000

     173.611.111,10

     250.000.000,00

     173.611.111

        0,694444

3

           250.000.000

     144.675.925,90

     125.000.000,00

       72.337.963

        0,578703

4

           250.000.000

     120.563.271,60

     125.000.000,00

       60.281.636

        0,482253

 

        1.000.000.000

          647.183.642

  1.000.000.000,00

     722.897.377

 

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa mesin yang pada saat perolehannya sebesar Rp 1.000.000.000,00 dan pada akhir masa manfaat (tahun ke-4) dengan discount factor 20% jumlah nilai tunai (present value) dari akumulasi beban penyusutan mesin dengan menggunakan metode garis lurus sebesar Rp 647.183.642,00 dan menggunakan metode saldo menurun sebesar Rp 722.897.76,50

Tabel (Perbandingan besar penghematan pajak antara metode garis lurus dan metode saldo menurun dengan tingkat diskonto 20%).

Keterangan

 Garis Lurus

 Saldo Menurun

 Nominal PV

 PV

 Nominal PV

 PV

 Harga Perolehan

  1.000.000.000,00

  1.000.000.000,00

     500.000.000

  416.666.666,70

 Biaya Penyusutan

  1.000.000.000,00

     647.183.641,98

  1.000.000.000

  722.897.376,54

 PPh 30%

     300.000.000,00

     194.115.092,59

     300.000.000

  216.869.212,96

 Penghematan Pajak = 216.869.212,96 – 194.155.092,59 = 22.714.120,37

Berdasarkan perhitungan di atas diperoleh besarnya penghematan pajak yang dapat dilakukan jika perusahaan memilih metode saldo menurun dalam menghitung besarnya beban peyusutan. Tarif pajak yang digunakan adalah tarif pajak tertinggi yaitu 30% karena diasumsikan bahwa perusahaan telah mencapai laba di atas Rp 100.000.000. Dengan tingkat diskon 20% besar penghematan pajak adalah  Rp 216.869.212,96 – Rp 194.115.092,59 = Rp 22.714.120,37.

32 thoughts on “PERENCANAAN PAJAK MELALUI PENYUSUTAN

  1. permisi.. mau tanya dong.
    gimana caranya menghitung hasil PV untuk saldo menurun dan garis lurus? karena saya tidak bisa menemukan caranya.
    gimana mbak bisa dapet angka itu?
    mohon petunjuknya. karena ini berhubingan dengan skripsi yang sedang saya kerjakan.
    Terima kasih sebelumnya.

  2. oh iya mbak bisa cantumin juga sumbernya? misal bukunya pake karangan siapa.. judulnya apa.
    makasih mbak. jangan lupa kirimin ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s