KONSEP-KONSEP MANAJEMEN BIAYA KONTEMPORER

LINGKUNGAN PEMANUFAKTURAN KONTEMPORER

Sistem Just In Time

Sistem Just In Time merupakan sistem produksi yang komprehensif dan sistem manajemen persediaan dimana bahan dan suku cadang dibeli dan diproduksi sebanyak yang dibutuhkan dan ada saat yang tepat pada setiap tahap proses produksi. Bahan baku dan suku cadang dibeli tepat pada saat akan digunakan dalam proses pemanufakturan. JIT berfokus pada eliminasi pemborosan, pengurangan persediaan dan pengembangan hubungan dengan supplier yang kuat, peningkatan keterlibatan para karyawan dan pengembangan program-program yang berfokus pada pelanggan.

Karena lingkungan JIT menyarankan perusahaan untuk mempunyai persediaan yang sedikit, setiap unit organisasi harus menjaga komunikasi yang erat dengan unit-unit lain, pelanggan, dan pemasok perusahaan. Perubahan-perubahan informasi konstan yang menyebabkan cepatnya terjadi inefisiensi. Adanya masalah yang tersembunyi sejak awal dalam hal persediaan, seperti kurangnya produk atau kualitas pemrosesan atau keuangan, merupakan pertanda untuk mulai diimplementasikannya JIT.

Kanban

Kanban merupakan seperangkat kartu pengendali yang digunakan untuk memberi tanda kebutuhan bahan dan produk untuk memindahkan dari satu operasi ke operasi berikutnya dalam satu lini perakitan. Kanban digunakan dengan JIT untuk menurunkan ‘lead time’ secara signifikan, menurunkan persediaan dan meningkatkan produktivitas dengan menghubungkan semua operasi produksi secara lancar tanpa terputus.

Work Cell

Work Cell merupakan kelompok kecil dari proses pemanufakturan yang saling berhubungan yang diorganisasikan dalam kelompok-kelompok untuk merakit suku cadang menjadi produk akhir. Karakteristik utama dari work cell yaitu :

a)      Proses pemanufakturan yang saling berkaitan diorganisasikan dalam kelompok-kelompok tertentu

b)      Operasi berjalan secara bersamaan

c)      Semua aktivitas produksi dari tahap bahan mentah sampai tahap dengan produk selesai berada dalam cell yang sama

d)     Pengendalian visual lebih mudah, jika terjadi masalah kelambatan atau kemacetan, maka umpan balik dapat segera dilakukan

Otomatisasi

Otomatisasi berarti penggantian usaha manusia dengan mesin. Tujuan otomatisasi adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas. Otomatisasi pabrik menjadi semakin diperlukan oleh banyak industri. Bentuk yang paling popular adalah mulai robot, computer-aided design dan computer-aided manu-facturing.

Robot

Robot adalah mesin yang telah diprogram dan dikendalikan yang dapat melakukan aktivitas yang berulang (repetitif). Dengan menggunakan robot, perusahaan dapat meningkatkan kapasitasnya, menurunkan waktu pembuatan suku cadang (dengan menggunakan urutan produksi/routing) yang lebih efisien, dan secara konsekuen juga menurunkan keterlambatan pesanan.

Computer-Aided Design dan Computer-Aided Manufacturing

Computer-Aided Design merupakan penggunaan komputer dalam analisis pengembangan produk dan modifikasi desain untuk meningkatkan kualitas dan kinerja produk. Computer-Aided Manufacturing merupakan penggunaan komputer untuk merencanakan, mengimplementasikan, dan mengendalikan produksi. Dalam pabrik-pabrik masa depan, semakin banyak perusahaan yang akan memperkenalkan CAD dan CAM supaya dapat lebih cepat menanggapi perubahan selera pelanggan. Inovasi ini mempercepat perusahaan dalam membawa produk mereka dari proses desain sampai dengan tahap distribusi.

Integrasi

Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas secara terus-menerus, perusahaan harus mengintegrasikan orang dan peralatan ke dalam suatu tim operasional yang lancar yang menjadi bagian pokok dari strategi pemanufakturan. Flexible Manufacturing System (FMS) dan Computer-Integrated Manufacturing (CIM) merupakan dua pendekatan yang terintegrasi.

Flexible Manufacturing System (FMS) merupakan jaringan kerja komputer dari peralatan otomatis yang memproduksi satu atau lebih kelompok suku cadang atau variasi produk dengan cara yang fleksibel.

Computer-Integrated Manufacturing merupakan sistem pemanufakturan yang terintegrasi secara total yang menghubungkan semua fungsi dari kantor dan pabrik dengan komputer melalui jaringan informasi berdasarkan komputer, untuk melakukan manajemen pemanufakturan jasa demi jam.

Karakteristik dari perusahaan manufaktur yang modern yang mengadopsi FMS dan CIM adalah produk dan jasa yang berkualitas tinggi, tingkat persediaan rendah, tingkat otomatisasi yang tinggi, waktu proses yang cepat, fleksibilitas yang tinggi dan teknologi informasi yang canggih.

KETERBATASAN SISTEM PENENTUAN HARGA POKOK TRADISIONAL

Sistem penentuan harga pokok tradisional mengukur sumber daya yang dikonsumsi dalam proporsi yang sesuai dengan jumlah produk yang dihasilkan. Adanya revolusi yang terjadi di dalam dunia bisnis, banyak sumber daya yang organisasional, seperti biaya setup atau biaya penanganan bahan untuk aktivitas dan transaksi tidak mempunyai hubungan fisik dengan volume produk yang diproduksi. Konsekuensinya, sistem harga pokok tradisional merupakan sistem yang lemah untuk membebankan biaya pendukung atau biaya penjualan ke produk.

Sistem penentuan harga pokok tradisional tidak lagi mencerminkan bagaimana aktivitas yang spesifik dalam pabrik yang terotomatisasi karena banyaknya kategori biaya. Sistem penentuan harga pokok tradisional dikembangkan saat komponen biaya tenaga kerja langsung  mendominasi biaya produksi total-input tenaga kerja langsung merupakan komponen utama yang mendorong terjadinya biaya produksi. Sehingga fokus sistem ini adalah pengukuran dan pengendalian biaya tenaga kerja langsung.

Keterbatasan utama dari sistem harga pokok tradisonal adalah penggunaan tarif tunggal atau tarif departemental yang mendasarkan pada volume.

Tarif Tunggal dan Tarif Departemental yang Berdasarkan Volume

Tarif tunggal mengasumsikan bahwa semua produk atau jasa memperoleh manfaat overhead pabrik dalam proporsi yang sama sehingga hanya digunakan satu macam dasar alokasi, misalnya jam kerja langsung. Metode tarif departemental menggunakan tarif overhead yang ditentukan terlebih dahulu yang juga didasarkan pada volume untuk setiap departemen (seperti jam kerja langsung untuk satu departemen, dan jam mesin untuk departemen lainnya).

Dalam sistem penentuan harga pokok tradisional, biaya overhead seringkali dialokasikan ke produk dengan menggunakan jam kerja langsung atau biaya yang berdasarkan volume. Perusahaan biasanya memperoleh tarif tunggal dengan cara membagi biaya overhead pabrik yang dianggarkan dengan biaya tenaga kerja langsung yang dianggarkan. Dengan tarif tunggal, biaya overhead pabrik dibebankan ke produk dengan cara  mengalikan tarif tunggal dengan jam kerja langsung yang digunakan oleh setiap produk.

Volume, Ukuran dan Kompleksitas yang Berbeda-beda

Produk yang berbeda dalam volume, ukuran dan kompleksitas akan mengkonsumsi sumber daya pendukung dalam jumlah berbeda secara signifikan. Sejalan dengan peningkatan diversitas produk, kuantitas sumber daya yang dibutuhkan untuk menangani transaksi dan mendukung aktivitas meningkatkan, oleh karena itu semakin tinggi pula distorsi yang dihasilkan dari biaya produk yang dilaporkan dengan sistem biaya tradisional.

Sistem penentuan harga pokok tradisional menggunakan ukuran yang berdasarkan  unit atau volume atau cost driver yang dapat mendistorsi ukuran persediaan (bahkan jika standar akuntansi keuangan diterapkan secara sempurna). Distorsi ini, dapat membawa dampak pada strategi-strategi yang stratejik, seperti kekeliruan dalam pengambilan keputusan tentang lini produk, penentuan harga jual yang tidak realistis dan alokasi sumber daya yang tidak realistis.

ACTIVITY-BASED COSTING

Aktivitas, Sumber Daya, Objek Biaya dan Cost Driver

Aktivitas adalah pekerjaan yang dilakukan dalam suatu organisasi. Contohnya pemindahan bahan merupakan aktivitas pergudangan.

Sumber daya merupakan sumber ekonomis yang dibebankan atau digunakan dalam pelaksanaan aktivitas. Gaji dan bahan merupakan contoh sumber daya yang digunakan untuk melakukan aktivitas.

Objek biaya merupakan bentuk akhir dimana pengukuran biaya diperlukan. Contohnya pelanggan, produk, jasa kontrak, proyek atau unit kerja lainnya dimana manajemen menginginkan pengukuran biaya secara terpisah.

Elemen biaya meupakan jumlah yang dibayarkan untuk sumber daya yang dikonsumsi oleh aktivitas dan terkandung di dalam ‘cost pool’. Contohnya, ‘cost pool’ untuk hal-hal yang berkaitan dengan mesin mungkin mengandung elemen biaya untuk tenaga, elemen biaya teknik dan elemen biaya depresiasi.

Cost driver adalah faktor-faktor yang merupakan perubahan biaya aktivitas. Dua jenis cost driver adalah driver sumber daya (resources driver) dan driver aktivitas (activity driver).

Driver sumber daya (resources driver) merupakan ukuran kuantitas sumber daya yang dikonsumsi oleh aktivitas. Contohnya adalah presentase dari luas total yang digunakan oleh suatu aktivitas.

Driver aktivitas (activity driver) adalah ukuran frekuensi dan intesitas permintaan terhadap objek biaya. Contohnya adalah jumlah suku cadang yang berbeda yang digunakan dalam produk akhir untuk mengukur konsumsi aktivitas penanganan bahan untuk setiap produk.

Apakah ‘Activity-Based Costing’ itu?

Activity-Based Costing adalah pendekatan penentuan biaya produk yang membebankan biaya ke produk atau jasa berdasarkan konsumsi sumber daya yang disebabkan karena aktivitas. Sumber daya dibebankan ke aktivitas, kemudian aktivitas dibebankan ke objek biaya berdasarkan penggunaannya. Dengan ABC, BOP dibebankan ke objek biaya seperti produk dan jasa dengan mengidentifikasikan sumber daya, aktivitas dan biayanya serta kuantitas aktivitas dan sumber daya yang dibutuhkan untuk memproduksi output. ABC merupakan sistem yang mempertahankan dan memproses data keuangan dan operasional dari sumber daya perusahaan berdasarkan aktivitas, objek biaya, cost driver, dan ukuran kinerja aktivitas. ABC juga membebankan biaya ke aktivitas dan objek biaya.

Prosedur Alokasi Dua Tahap

Alokasi dua tahap membebankan biaya sumber daya perusahaan, yang disebut biaya overhead pabrik, ke ‘cost pool’ dan kemudian ke objek biaya berdasarkan bagaimana suatu objek biaya menggunakan sumber daya tersebut.


Dengan sistem ABC, alokasi tahap pertama adalah proses pembebanan biaya sumber daya, yaitu biaya overhead pabrik dibebankan ke ‘cost pool’ aktivitas atau kelompok aktivitas yang disebut pusat aktivitas (activity center) dengan menggunakan driver sumber daya (resources driver) yang tepat.

Alokasi tahap kedua adalah proses pembebanan biaya, dimana biaya aktivitas dibebankan ke objek biaya dengan menggunakan driver aktivitas (activity driver) yang tepat.

Sistem ABC berbeda dari sistem tradisional dalam dua hal : (1) ‘Cost pool’ didefinisikan sebagai aktivitas atau pusat aktivitas dan bukan sebagai pabrik atau pusat biaya departemen, (2) Cost driver yang digunakan untuk membebankan biaya aktivitas ke objek biaya adalah driver aktivitas yang mendasarkan pada hubungan sebab akibat.

Kapan sistem ABC dibutuhkan?

Sistem ABC hanya diimplementasikan jika :

  1. Biaya mengukur aktivitas dan biaya aktivitas menurun, mungkin karena sistem penjadwalan yang sudah terotomatisasi di pabrik.
  2. Persaingan yang semakin ketat meningkatkan biaya kesalahan yang disebabkan kekeliruan dalam penentuan harga jual.
  3. Diversitas produk sangat tinggi dalam hal volume, ukuran dan kompleksitas produk.

Tahap-tahap dalam Perancangan sistem ABC

  1. Mengidentifikasi Sumber Daya dan Aktivitas

Biaya sumber dana adalah biaya yang dikeluarkan untuk melakukan berbagai aktivitas. Dalam merancang sistem ABC juga dilakukan analisis aktivitas. Analisis aktivitas adalah identifikasi dan deskripsi pekerjaan (aktivitas) dalam organisasi. Analisis aktivitas meliputi pengumpulan data dari dokumen dan catatan yang ada, dan penelitian/survey dengan menggunakan daftar pertanyaan, observasi dan wawancara secara terus-menerus terhadap orang-orang kunci.

Proses pemanufakturan mempunyai empat kategori aktivitas :

1)      Aktivitas berlevel unit, adalah aktivitas yang dilakukan untuk memproduksi setiap satu unit produk.

2)      Aktivitas berlevel batch, adalah aktivitas yang dilakukan untuk setiap batch atau kelompok produk.

3)      Aktivitas untuk mendukung produk, adalah aktivitas yang dilakukan untuk mendukung produksi produk yang berbeda.

4)      Aktivitas untuk mendukung fasilitas, adalah aktivitas yang dilakukan untuk mendukung produksi produk secara umum.

  1. Membebankan Biaya Sumber Daya ke Aktivitas

Biaya sumber daya dapat dibebankan ke aktivitas dengan cara penelusuran secara langsung (direct tracing) atau estimasi. Direct tracing mensyaratkan untuk mengukur pemakaian sumber daya yang sesungguhnya digunakan oleh aktivitas. Contohnya tenaga yang digunakan untuk mengoperasikan mesin yang dapat ditelusuri secara langsung ke aktivitas operasi mesin, sehingga operasi mesin diobservasi berdasarkan meter yang digunakan. Jika pengukuran secara langsung tidak dapat digunakan, supervisor diminta untuk  mengestimasi presentase waktu yang dilakukan oleh tenaga kerja pada setiap aktivitas yang diidentifikasi.

  1. Membebankan Biaya Aktivitas ke Objek Biaya

Driver aktivitas digunakan untuk membebankan biaya aktivitas ke objek biaya. Driver aktivitas biasanya berupa jumlah pesanan pembelian, jumlah laporan penerimaan barang, jumlah laporan atau jam inspeksi, jumlah suku cadang yang disimpan, jumlah pembayaran, jam kerja langsung, jam mesin, jumlah setup dan waktu siklus produksi.

Manfaat sistem ABC

  1. ABC menyajikan biaya produk yang lebih akurat dan informatif.
  2. ABC menyajikan pengukuran yang lebih akurat tentang biaya yang dipicu oleh adanya aktivitas.
  3. ABC memudahkan manajer memberi informasi tentang biaya relevan untuk pengambilan keputusan bisnis.

Keterbatasan Sistem ABC

  1. Alokasi
  2. Mengabaikan biaya
  3. Pengeluaran dan waktu yang dikonsumsi

 

Perbandingan Sistem ABC dengan Sistem Tradisional

Proses pembebanan biaya pusat aktivitas ke produk terdiri dari 3 tahap :

  1. Biaya ditelusuri ke driver sumber daya yang sama yang dibebankan ke pusat aktivitas.
  2. Tarif overhead pabrik dihitung untuk setiap aktivitas berdasarkan driver aktivitas tertentu.
  3. Biaya overhead dibebankan ke setiap produk dengan cara mengalikan tarif overhead pabrik dengan kuantitas driver aktivitas yang dikonsumsi oleh produk.

Perbedaan utama antara sistem penentuan biaya tradisional dengan sistem ABC terdapat pada tahap kedua dan ketiga.

MANAJEMEN BERBASIS AKTIVITAS (ACTIVITY-BASED MANAGEMENT)

Apakah Activity-Based Management itu?

ABM adalah pengelolaan aktivitas untuk meningkatkan nilai (value) yang diterima oleh pelanggan dan untuk meningkatkan laba melalui peningkatan nilai tersebut.

Aktivitas yang Bernilai Tambah dan Tidak Bernilai Tambah

Aktivitas bernilai tambah adalah aktivitas yang memberi kontribusi terhadap costumer value dan memberikan kepuasan kepada pelanggan atau organisasi yang membutuhkannya. Contohnya meliputi perancangan produk, pemrosesan oleh tenaga kerja langsung, penambahan bahan langsung, aktivitas yang berkaitan dengan mesin dan pengiriman produk.

Aktivitas tidak bernilai tambah adalah aktivitas yang tidak memberikan kontribusi terhadap costumer value atau terhadap kebutuhan organisasi. Contohnya aktivitas setup, perpindahan, waktu menunggu, operasi, inspeksi dan penyimpanan.

PENERAPAN DALAM PEMASARAN DAN ADMINISTRASI

ABC dapat diterapkan di penjualan, advertensi, pemenuhan pesanan, pengiriman, penggudangan, penagihan, dan akuntansi penggajian.

Pada aktivitas pemasaran, akuntan manajemen menelusuri biaya pemasaran ke cost pool aktivitas, selanjutnya menelusuri biaya tersebut ke lini produk dan daerah untuk mengukur profitabilitas.

ACTIVITY-BASED COSTING DAN STRATEGIC COST MANAGEMENT

ABC membebankan biaya ke produk atau pelanggan sesuai dengan sumber daya yang dikonsumsi. ABC menggambarkan perusahaan sebagai serangkaian aktivitas yang dirancang untuk memuaskan kebutuhan pelanggan. ABC memberikan informasi kepada manajer supaya dapat mengelola aktivitas dalam rangka meningkatkan daya saing dan untuk mencapai tujuan-tujuan stratejik.

Aktivitas ditentukan melalui pemilihan strategi. Perusahaan yang sukses menanamkan sumber daya yang dimiliknya ke aktivitas-aktivitas yang mengarah pada manfaat stratejik terbesar. ABC/ABM membantu manajer memahami hubungan antara strategi perusahaan dengan aktivitas dan sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan strategi tersebut.

ISU PERILAKU DAN IMPLEMENTASINYA

Untuk dapat mengimplementasikan ABC/ABM secara sukses, akuntan manajemen perlu bekerja sama dengan manajer teknik, manajer produksi, danmanajer operasional untuk membentuk suatu tim perancangan ABC/ABM.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s